mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Selasa, 25 Juli 2017

Renungan Untuk Wanita yang Sempurna di Mata Saya

Saya mengenal seorang perempuan yang di mata saya, dia adalah ibu dan istri yang luar biasa baik. Pagi jam 03.00, dia sudah bangun untuk sholat tahajud dan tilawah Qur’an. Setelahnya mulai sibuk dengan cucian dan urusan dapur. Saat suami dan anak-anaknya bangun, makanan sudah siap di meja makan lengkap dengan bekal yang mereka bawa ke sekolah atau tempat kerja. 

Rumahnya bersih, rapi jali. Kegiatan pengajian, sosial kemasyarakatan tak membuatnya abai urusan rumah tangga. Kebutuhan suami dan anak-anaknya tak pernah sedikitpun terlalaikan. Saya melihatnya sebagai ibu dan istri yang sempurna.

Tapi, sayangnya, kehidupannya sungguh sengsara justru setelah anak-anaknya dewasa. Ada yang menghamili anak orang dan berbuntut panjang. Keluarga dari anak yang dihamili ternyata justru memeras dan tak henti-hentinya menteror keluarga itu dengan berbagai cara.

Ada lagi anaknya yang sudah menikah dan tinggal serumah, tapi perilku anak dan menantunya itu sungguh tak tahu diuntung. Kesannya menjadikan ibunya itu sebagai pembantu. Dari mulai urusan makan sampai cuci pakaian, anak dan menantunya itu sama sekali tak mau mengurusnya sendiri.

Dan anak yang lain, yang sebenarnya paling ‘mendingan’ dibanding saudara-saudaranya itu, kuliahnya berantakan tanpa alasan yang jelas. Terakhir akhirnya menikah, namun hanya seumur jagung.
Kasus serupa juga menimpa seorang ibu yang lain, yang juga saya kenal baik. Anaknya ada yang gemar bersandiwara sehingga menimbulkan berbagai persoalan berat bahkan sampai memutuskan persaudaraan. Sementara anak lainnya tersangkut narkoba setelah putus sekolah karena bermasalah dengan teman sekolahnya.

Sungguh, saat itu saya sama sekali tak mengerti mengapa, seorang ibu yang baik dan bahkan sempurna harus diuji dengan anak-anak yang membuatnya sengsara dan terus-menerus menimbulkan masalah?
Setelah saya renungkan, dan setelah membaca berbagai pengetahuan parenting, akhirnya saya paham. Saya menemukan benang merahnya. Ya, kedua ibu yang sempurna itu sejak anak-anaknya kecil hingga dewasa hanya bersifat melayani, bukan mendidik.

Jadi semua keperluan anak-anaknya dicukupi tanpa membiarkan anak itu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri semampunya. Saya masih ingat saat sempat tinggal beberapa waktu di rumah ibu itu. Hingga anak sekolah di SMA, sang ibu masih saja menyiapkan keperluan sekolah anaknya, mengambilkan makannya dan bahkan kadang menyuapinya. Sifat melayani dan memposisikan diri sebagai helper di setiap saat setiap waktu, bahkan kadang mengambil alih pekerjaan anak-anak karena dianggap lama dan kurang rapi, ternyata sangat berbahaya.

Anak-anak tak pernah belajar mandiri sama sekali. Semua dilakukan oleh ibunya. Sang ibu tak memberikan kesempatan anak mencoba, berlatih, meskipun kadang harus jatuh, sakit, terluka, sempat putus asa, marah dan sebagainya. Namun proses belajar dari kesulitan artifisial yang diberikan orang tua itulah yang sebenarnya jadi bekal mereka di kehidupan nanti. Sungguh, ketika kasih sayang yang direpresentasikan menjadi memanjakan, hanya akan menjadikan anak cacat sosial, gagap dalam kehidupan dan pada akhirnya menjadi benalu abadi bagi kedua orang tuanya.

Dan satu lagi kesamaan dari kedua ibu itu. Mereka sama-sama memiliki suami yang abai dengan anak-anaknya. Seorang ayah yang merasa sudah menunaikan kewajiban hanya dengan mencari nafkah saja. Dan menyerahkan semua urusan pendidikan ke ibu, tanpa mau campur tangan kecuali saat harus memarahi.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kedua kasus ini.

#estining engky pamungkas

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Renungan Untuk Wanita yang Sempurna di Mata Saya