mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Minggu, 07 Desember 2014

Ketika Seorang Istri Bercerita Tentang Gaji Suaminya yang Kecil

Pernahkah terbetik keinginan di hati untuk sekadar 'curhat' kepada teman, saudara, keluarga, mertua soal kekurangan nafkah yang diberikan oleh pasangan hidup kita sehari-hari?

 Mungkin saat ini sudah menjadi lumrah bagi berterus terang kepada orang lain soalan kekurangan nafkah kita sehari-hari. boleh jadi hanya sekadar melepaskan uneg-uneg, merasa lebih lega, mungkin juga berusaha berempati dengan teman yang memiliki masalah yang sama.

 "Ayah si badu cuma pekerja rendahan bu. nafkahnya cuma cukup untuk makan sehari-hari saja."

 "Suamiku sudah 2 tahun nikah, nafkahnya ya gitu-gitu saja mbak. ndak bisa buat ngapa-ngapain."

 "Boro-boro beli rumah. kredit panci saja susah mas. suamiku gajinya kecil."

 Namun sebaiknya berhati-hatilah dengan curhatan semacam itu karena dari perkataan inilah dapat muncul ketetapan cerai.

 Terkisah dari sirah, satu-satunya alasan mengapa Nabi Ibrahim Alaihissalam meminta anaknya nabi Ismail menceraikan istrinya hanya karena sang istri curhat soal kekurangan nafkahnya kepada orang 'asing.'.

 Dari kitab-kitab sirah di ceritakan Nabi Ibrahim mengunjungi Nabi Ismail setelah begitu lama tidak berjumpa. ketika dia berkunjung ke rumahnya, dia menjumpai istri nabi Ismail sedang berada dirumah sedangkan Nabi Ismail sedang tidak ada dirumah. maka beliau pun bertanya:

 "Kemanakah sang empunya rumah?" tanya nabi Ibrahim tanpa menjelaskan siapa identitas dia sesungguhnya. sang menantu yang tidak mengenal nabi Ibrahim menyambut sang ayah mertuanya dengan wajah tidak senang, karena takut tamunya hanya akan memberatkan kehidupan mereka.

 "Dia sedang mencari nafkah."

 "bagaimana keadaan kalian selama ini?" tanya nabi Ibrahim bersoal kehidupan dan keadan mereka sehari-hari. 

 "Kami dalam keadaan buruk, hidup kami dalam kesusahan dan kesulitan." dan dia terus melanjutkan keluhan kepada nabi Ibrahim.

 Maka di akhir pertemuan Nabi Ibrahim berpesan:
 "Jika suamimu pulang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya."

 Sekembali Nabi Ismail, beliau menanyakan perihal siapa yang datang dan apa pesan yang diberikan. istrinya menceritakan telah datang lelaki tua dengan ciri-ciri selayak ayahnya.

 " ia menanyakan keberadaanmu dan aku memberitahukannya. ia menanyakan kondisi kehidupan kita disini, maka akupun menjawab bahwa hidup kita kesulitan dan kesusahan." jelas sang istri. 

 "Apakah dia berpesan sesuatu padamu?" tanya nabi Ismail.

 "Ia menitip salam kepadamu dan menyuruhmu untuk menggantikan palang pintu rumahmu."

 Nabiyullah Ismail pun berkata: "Ia adalah ayahku. sedangkan pesan agar menggantikan palang pintu bermakna ia menyuruhku untuk menceraikanmu, karena itu kembalilah engkau kepada keluargamu."

 Wahai ibunda dan saudariku sekalian. sungguh-sungguh mengungkapkan kekurangan nafkah suamimu adalah hal besar. bila tidak, tentu seorang nabi khalilullah tidak akan menyuruh anaknya menceraikan istrinya, karena perceraian adalah jalan yang dibenci Allah.

 dalam keterus-terangan yang berbahaya itu, terdapat aib yang terbuka lebar, terdapat kenistaan usaha suami, tersingkap ketidakmampuan sang istri untuk mensyukuri yang telah diusahakan oleh suami.

 Wahai ibunda dan saudariku sekalian, bila kepada seorang ayah mertua saja kita 'terlarang' untuk menceritakan kekurangan nafkah dari suami, konon lagi tetangga, saudara, teman kerja, atau orang asing yang baru kita kenal di dunia maya.

 Sungguh-sungguh ini adalah bentuk perbuatan yang dibenci oleh para nabi. bila pun harus berkeluh kesah, maka Allahlah sebaik-baik tempat berkeluh kesah.

 Sebaik-baik sikap simpan semua curhat di dalam dada kita, agar kita tidak menjadi istri yang buruk, sebagaimana kisah istri nabi Ismail yang dicerai karena tidak mampu menahan diri dari 'curhat' akan kekurangan suaminya.


oleh : Rahmat Idris

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ketika Seorang Istri Bercerita Tentang Gaji Suaminya yang Kecil