mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 02 Januari 2004

Tidak ada orang yang kebal dari fitnah kalau selalu diserang



Khamis adalah seorang pemuda berumur 22 tahun. Dia punya teman akrab bernama Senin yang berusia lebih muda darinya satu tahun.

Senin adalah anak bungsu dari beberapa orang bersaudara. Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di rumah. Ayahnya sudah meninggal semenjak ia masih kecil. Semua saudara Senin sudah menikah dan sudah pada punya anak. Mereka sudah tinggal di rumah masing-masing. Jadi ibu Senin sudah punya banyak cucu.

Sementara ibu si Senin sendiri sudah berumur 56 tahun. Uban sudah bertaburan di kepalanya. Giginya lebih banyak yang rontok dari pada yang tersisa. Tentu saja kulitnya sudah keriput. Lagian ia bukanlah orang kaya yang badannya terawat dan selalu rapi. Dia hanya seorang petani kampung biasa.

Selaku teman akrab, Khamis sering main ke rumah Senin. Bahkan sering nginap di malam hari. Ibu Senin sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Setiap kali Senin disediakan minuman atau cemilan, Khamis juga dapat bagian. Bahkan Khamis sering makan siang atau makan malam di rumah Senin.

Khamis orang yang cukup tahu diri. Untuk membalas kebaikan keluarga itu, ia tidak sungkan-sungkan membantu apa saja. Kadang ia ikut ke ladang atau ke sawah ibunya si Senin untuk membantu bekerja.

Keadaan seperti itu berlanjut cukup lama. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Barangkali sudah beranjak berganti tahun mereka tetap akrab dan hampir setiap hari ketemu.

Tapi yang namanya syetan, tidak pernah berhenti menggoda umat manusia. Khamis anak muda belia itu selangkah demi selangkah, setapak demi setapak jatuh cinta kepada ibu si Senin. Dan ajaibnya ibu si Senin juga demikian. Tidak tahu siapa sebenarnya yang memulai dan siapa yang duluan jatuh cinta.

Berawal dari penghormatan seorang anak kepada seorang ibu berubah menjadi cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Begitu juga, sayang seorang ibu menjelma menjadi cinta seorang perempuan kepada seorang pemuda.

Kemana-mana mereka berjalan bertiga. Bahkan kadang-kadang berdua saja tanpa ditemani si Senin. Orang sekeliling tidak ada yang curiga, karena seorang pemuda berduaan dengan seorang nenek-nenek yang sudah reot. Apa yang perlu dicurigai? Begitulah logika manusia, tapi logika syetan lain lagi.

Akhirnya si Khamis dan ibu si Senin sudah membulatkan tekad untuk hidup berdua. Mereka memutuskan untuk menikah secara resmi. Sekalipun berita itu mengejutkan keluarga si Khamis dan orang kampung sekeliling, tapi yang namanya "cinta", mampu menembus segala rintangan itu.

Sekalipun tidak pakai perta dan pelaminan, Khamis dan ibu Senin sampai ke penghulu dengan resmi. Mereka berdua mengantongi kartu nikah sah dari kantor KUA.

Kita tidak tahu bagaimana awalnya mereka saling jatuh cinta. Apakah mereka saling mengungkapkan kata-kata rayuan bagaikan dua sejoli muda-mudi, atau ada jalur lain secara gaib yang susah kita pahami. Yang jelas "cinta" itu memang sesuatu yang sangat misterius.

Cerita di atas bukanlah rekaan yang dibuat-buat. Apalagi dongeng orang zaman dulu. Tapi ini sesuatu yang betul-betul terjadi.

Sebenarnya tidak ada celanya dalam syari'at Islam seorang pemuda nikah dengan seorang nenek-nenek. Tapi yang jadi masalah adalah proses menuju ke sana.

Syari'at Islam sudah memberi batasan yang jelas dan ketat dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Allah Pencipta manusia Maha Tahu terhadap potensi-potensi yang ada pada diri manusia. Juga Maha Tahu terhadap godaan syetan yang tidak pernah istirahat sedetikpun menggoda dan merusak manusia.

Makanya kita harus mematuhi aturan itu, supaya tidak terjadi hal yang di luar aturan. Kisah ini hanya salah satu dari puluhan ribu kasus serupa yang pernah terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Betapa banyaknya kehidupan rumah tangga yang hancur berantakan akibat masing-masing pihak tidak mengindahkan batasan pergaulan. Akibat minimnya rasa cemburu di hati seorang suami, istrinya berpindah tangan kepada teman akrab. Akibat terlalu banyak gesekan, akhirnya seorang istri minta cerai karena ingin nikah dengan tetangga. Akibat pandangan yang tidak terjaga akhirnya muncullah para "senior" (senang istri orang)

Lihatlah kasus-kasus yang terjadi di lingkungan kita masing-masing. Saya yakin setiap orang mempunyai pengalaman sendiri dalam masalah yang mirip dengan ini. Persoalannya berawal dari hal yang sangat sepele, yaitu: "tidak mengacuhkan batasan-batasan pergaulan".

Kalau tidak ada hal yang terlalu penting, tidak ada gunanya istri kita dilihat oleh laki-laki lain, sekalipun teman akrab kita sendiri. Demikian sebaliknya, tidak ada gunanya kita melihat dan bertemu dengan istri teman. Bahkan justru karena teman itulah kita lebih berhati-hati. Ada godaan syetan yang lebih dahsyat untuk menghancurkan hubungan sesama kita.

Paling kurang, akan muncul di dalam hati bisikan syetan untuk membanding-bandingkan antara istri kita dengan istri teman. Lama kelamaan akan menjadi celah yang sangat ampuh untuk memporak-porandakan tatanan masyarakat.

Ingat, tidak ada orang yang kebal dari fitnah kalau selalu diserang. Tidak ada istilah ustadz atau ulama, semuanya punya celah untuk digoda.



Allah berfirman:

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (An Nur: 30)




Silahkan lanjutkan mentadabburi ayat ini dan surat An nur secara keseluruhan. Yang salah satu inti kandungannya adalah perintah untuk menjaga kehormatan dan kebersihan diri.

Semoga Allah memelihara diri dan keluarga kita dari kekotoran pergaulan.

oleh : Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tidak ada orang yang kebal dari fitnah kalau selalu diserang