mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Senin, 05 Januari 2004

Seharusnya yang menentukan mahar orang tua atau anak ?



'Bang apakah boleh mahar ditentukan oleh orang tua? bukankah mahar adalah hak penuh dari sang perempuan yang dilamar? bila perempuan telah setuju kenapa harus ditahan oleh orang tua?

Sebelum kita bicara panjang lebar tentang boleh tidak mahar ditentukan oleh orang tua, ada baiknya kita membuka Kitab Alquran surah Al Qashsash ayat: 27: 28
Dalam surah dan ayat tersebut adalah dialog antara seorang ayah dengan seorang calon menantu, yakni Nabiyullah Syua'ib dengan Nabiyullah Musa.

"Dia (Syu'aib) berkata: Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, Dengan KETENTUAN bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkanmu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik" (al-Qashash ayat 27)

"Dia (Musa) berkata: "Itu perjanjian antara aku dan engkau, yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi), dan Allah menjadi saksi atas yang kita ucapkan (Al Qashsash ayat 28)

Dari ayat ini jelas sekali bahwa seorang ayah berhak menentukan mahar kepada sang calon menantu bila dia merasa perlu. jadi andai kata ada yang berkata orang tua tidak berhak menentukan mahar, sebaiknya pahami kembali ayat ini.

Nah, ada pertanyaan menarik yang mengguris hati kita, soalan mengapa nabi Syu'aib memberikan syarat 'berat' yakni bekerja pada beliau sebagai mahar pernikahan anaknya?

Jawabannya menurut saya yang awam adalah:

Yang pertama sekali, Nabi Musa adalah sosok yang asing bagi keluarga Nabi Syu'aib. beliau adalah seorang pelarian dan baru saja dikenal oleh nabiyullah Syu'aib setelah membantu anaknya memberikan minum kepada hewan ternaknya. Maka wajar bila sang Nabi Syu’aib butuh waktu menilai akhlak dan tabi’atnya agar pilihan menikahkan anaknya dengan nabi Musa bukanlah pilihan yang salah.

Tentunya Nabi syu'aib tidak kenal kebiasaan dan sejarah hidup keluarga nabiyullah Musa. Mereka baru saja bertemu sedangkan Mesir dan Madyan adalah wilayah dan bangsa yang berbeda. Sulit bagi Nabi Syu’aib mencari ‘second opinion’ dari orang ketiga. Wajar bila Nabi Syu’aib merasa perlu memberikan “Fit and Propert Test” kepada Nabiyullah Musa.

Waktu 8-10 tahun adalah masa untuk melihat dan mencermati akhlak nabi Musa secara baik. melihat kapasitas kepemimpinannya serta kemampuannya dalam mengelola ‘aset minimum’ untuk berumah tangga.

Berbeda kasusnya dengan kisah Ali Radhi Allahu Anhu, walau beliau seorang pemuda sederhana, beliau tumbuh dan besar di rumah Rasulullah, pantaslah bila beliau diterima tanpa harus diberikan syarat-syarat berat. Ali RadhiAllahu Anhu telah membantu Rasulullah sejak kecil hingga tumbuh dewasa, pernah menggantikan rasulullah di ranjang tidurnya ketika para pemuda qurasy mengempung beliau dengan keinginan membunuh beliau.

maka bila ada pemuda yang bertanya mengapa mahar saya diberatkan, boleh jadi karena anda masih dianggap asing dari keluarga perempuan yang ingin anda pinang. Atau anda belum mendapatkan kepercayaan penuh dari sang keluarga. Ini sebagai fit and propert test yang merupakan bentuk penjagaan serta kasih sayang dari seorang ayah kepada anaknya. Simple sekali kan jawabannya?

Di beberapa daerah hal ini juga berlaku, ada yang dalam satu keluarga mahar kakak dan adik berbeda. boleh jadi juga karena bicara kedekatan dari ayahanda dengan calon menantunya pun berbeda. Ada yang terlebih dahulu dikenal dan ada yang baru saja dikenal dan dipercaya. Wallahu'alam.

Kedua:
NAbi Musa memperkenalkan diri sebagai pelarian yang dulunya adalah anak raja. seperti kita ketahui bersama, Musa adalah anak angkat dari Fir'aun. Beliau hidup dalam suasana serba berkecukupan. ketika dia lari ke Madyan, wilayah Kan'an, dia adalah pemuda yang kuat dan tangguh namun belum memiliki skill (keahlian) untuk mencari nafkah sendiri. Beliau anak angkat Fir’aun, untuk apa bekerja dan mencari nafkah tentunya bila di istana semua yang dibutuhkannya ada.

Maka Nabi Syu'aib memberikan beliau satu proses pembelajaran untuk mencari nafkah yang paling dasar saat itu, yakni mengembala domba selama 8-10 tahun dengan tujuan agar nabi Musa dapat mengubah kebiasaan dan tabiat seorang putra angkat raja dengan tabiat seorang lelaki yang bertanggung jawab kepada anak istrinya kelak.

Wahai pemuda, pahamilah ini sebaik-baiknya. Banyak pemuda saat ini terlahir dan besar seperti nabi Musa yang dibesarkan oleh Fir'aun. sampai umur 25 tahun masih belum tahu bagaimana cara mencari nafkah untuk diri sendiri konon lagi untuk anak dan istri. seringnya pulang dan makan nasi bersama orang tua. Bila menginginkan sesuatu tinggal meminta kepada orang tua. lalu bagaimana cara anda meyakinkan calon mertua anda bila anda siap bertanggung jawab?

walaupun tubuh anda sehat, pikiran anda cemerlang, namun bila tidak memiliki skill apapun, maka kelebihan ini tidak akan membuat anda mampu bertanggung jawab.

Skill (keahlian) adalah kemampuan dasar yang dibentuk karena kebiasaan anda. kebiasaan anda melahirkan tabi'at. bila tabi'at anda telah baik, maka skill anda juga akan semakin baik. permisalan paling mudahnya adalah: setiap orang pasti bisa menjual koran atau menarik ojek. namun berapa banyak lulusan s1 yang mau melakukannya? Ini bukan karena sulitnya menjual koran, namun tabiat manusia tidak mau mengerjakan hal-hal yang menurutnya rendah dimatanya.

Ini hal sama yang terjadi pada Nabi Musa, beliau adalah anak angkat fir'aun, maka Nabi Syu'aib berniat mengubah tabi'at sang pangeran terlebih dahulu menjadi pengembala domba barulah kemudian beliau yakin sang Musa siap menjadi suami anaknya.

Kenapa dengan penggembala domba? Dalam satu hadist dikatakan: semua nabi pernah menjadi penggembala. Menjadi pengembala adalah pekerjaan yang mendidik kesabaran dan ketekunan. Maka wajar bila nabi Syua’ib memberikan kepercayaan hewan gembalaannya kepada nabi Musa untuk melihat seberapa sabar dan tekunnya beliau.

Hampir sama dengan khadijah yang mempercayai urusan perdagangan kepada Rasulullah sebelum ketertarikan tumbuh dan bersemi. Kepintaran berdagang menunjukkan sikap jujur rasulullah. Sejatinya setiap pekerjaan kita akan menampakkan siafat asli kita. Apakah jujur, sabar, tekun, atau sebaliknya.

Saya memberikan analogi sederhana, bila saja anda melamar keluarga sederhana dan orang tua dari yang ingin anda lamar saat ini memberikan test kecil:
"Nak, ini ada uang 30 ribu. belanjalah hingga mencukupi kebutuhanmu dan istrimu."

Bila anda terlahir sebagai anak orang kaya, maka mungkin anda berkata:
"30 ribu? mana cukup! itu hanya untuk biaya pulsa saya sehari saja"

Sedangkan sang mertua dengan uang tersebut telah membesarkan anaknya selama puluhan tahun. maka boleh jadi lamaran anda tertolak walau anda bergaji 10 juta sebulan. bukan karena anda lebih miskin, namun karena anda tidak mampu untuk hidup dalam kondisi sederhana seperti beliau menghidupkan anak beliau selama ini.

seorang pemuda yang cerdas dan sekufu tentunya akan segera membawa uang tersebut ke pasar tradisional dan berhasil membelikan sejumlah kebutuhan untuk berdua dengan jumlah tidak sampai 30 ribu rupiah.

Asumsi dasarnya, Bila seseorang bisa bertahan dgn 30 ribu sehari, maka bila dia berpenghasilan 100 ribu sehari dia dapat menabung 70 ribu seharinya. Namun bila seseorang hanya bisa hidup dengan biaya hidup 100 ribu sehari, bayangkan bila dia hanya berpenghasilan hanya 50 ribu sehari? Dia akan menderita walaupun sejatinya banyak orang malah dapat tersenyum dengan penghasilan tersebut.

Inilah hikmah yang tersamar dari proses penentuan mahar. Bagi orang-orang yang dapat menemukan hikmah, tentunya dia akan menjadi orang-orang yang terselamatkan dari prasangka buruk yang seringnya berakhir pada kesesatan semata.
Pernahkah anda berpikir ketentuan mahar itu adalah ‘fit and propert test’ dari calon mertua anda? Kalau pernah sudah saatnya anda bersiap-siap melewati test tersebut.

oleh : Rahmat Idris

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Seharusnya yang menentukan mahar orang tua atau anak ?