mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 02 Januari 2004

Mengapa tidak mencari suami/istri yang sekufu, mengapa tidak mencari yang setingkat ?



Pemuda yang nyeri dengan tawaran mahar tinggi dari keluarga muslimah yang ingin melamarnya seharusnya paham..

inilah konsep melamar..

sebelum melamar kita sulit mengukur antara keinginan dan realita. antara keutamaan dan keikhlasan..

Kenapa maharnya tinggi sekali?
kenapa tidak seperangkat alat shalat saja?


Kalau saya ditanyakan begitu, saya akan balik bertanya :
kenapa engkau tidak menikahi perempuan yang maharnya hanya seperangkat alat shalat? kalau engkau mau saya akan tunjukkan beberapa pilihan yang ada.

Banyaklah keluhan dihati itu muncul karena kita sudah mematok yang ingin kita nikahi adalah si fulanah binti fulan..

si anak kedokteran, si PNS, si cantik mandraguna ‪dan si si lainnya..

karena kita berniat menikah bukan karena Allah, pantaslah mahar yang kita dapatkan juga bukan berstandar karena Allah pula..

coba letakkan lamaran pada gadis yatim yang ibunya hanya seorang pembuat kue, datangi baik-baik dan terangkan maksud kedatangan anda serta bagaimana kondisi anda selama ini..
ya kemungkinan besar anda akan menemukan sosok perempuan yang dimudahkan maharnya..

Tapi bila anda mendatangi sosok yang dari awal ingin melamarnya karena dia seorang cantik, kaya raya, anak pejabat, keturunan ningrat, lalu anda mengeluhkan mahar?

haha.. izinkan saya tertawa sejenak, kenapa anda tidak melihat yang sekufu wahai saudaraku? mengapa tidak mencari yang setingkat?


Lalu apakah tidak boleh yang kaya raya merendahkan maharnya?

boleh...

tapi kalau mereka tidak merendahkannya hak apa anda menggugatnya?

hak kita cuma pada kalimat "Allahu Akbar!" lalu pergi mencari yang lain.

tidak ada hak kita berkata "Mahal sekali kok, seperti jualan anak!"

perkataan ini hanya muncul dari prasangka buruk kita, bukan dari ketulusan melamar karena Allah..

Luruskan niat kembali. soal tinggi rendah, mudah sulitnya mahar itu hanya soal pilihan-pilihan semata..

oleh : Rahmat Idris

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Mengapa tidak mencari suami/istri yang sekufu, mengapa tidak mencari yang setingkat ?