mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Selasa, 13 Januari 2004

Menanggapi tentang kisah seorang ibu yang buta dan anak durhaka



Sudah lama ingin menanggapi cerita bodoh seperti ini, dan sekarang baru ada kesempatan.

kita tentu sudah tidak asing dengan "kisah seorang ibu yang buta dan anak durhaka" kisah sudah lama dan sampai sekarang masih sering dibagikan.

Beragama yang benar itu bukanlah dengan perasaan dan berdasarkan emosional. Tapi harus berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Sepintas lalu cerita ini mengandung pelajaran untuk mengingatkan kita supaya jangan durhaka kepada ibu. Kita prihatin terhadap ibu yang diterlantarkan oleh anaknya gara-gara dia buta sebelah.

Tapi kalau kita cermati dengan kacamata syari’at, yang terjadi sebenarnya di sini adalah kedurhakaan seorang ibu. Bukan anak durhaka. Makanya kalau cerita ini betul-betul pernah terjadi, yang perlu di salahkan adalah ibu itu, bukan anaknya. Kenapa?

1. Mata itu bukanlah hak milik yang boleh kita gunakan seenaknya. Dia adalah amanah Allah yang harus dijaga baik-baik. Kita tidak berhak memberikannya kepada siapapun, sekalipun kepada orang yang paling kita cintai. Ibu itu sudah memberikan matanya kepada anaknya, sehingga dia menjadi cacat gara-gara itu. Dan itu adalah suatu dosa besar.

2. Kenapa ia tidak memberi tahukan kepada anaknya peristiwa sesungguhnya? Kenapa ia menyimpannya, dan memberitahukan setelah ia meninggal? Apalagi ketika sudah dia lihat tanda-tanda kedurhakaan dari anaknya. Itu artinya, dia merestui kedurhakaan anaknya kepada dia. Dan tidak berusaha meperbaikinya.

Di samping dua hal di atas, ada satu hal yang membuat cerita ini tidak masuk akal. Yang membuktikan ini adalah cerita rekaan yang tujuannya mendidik, tapi sungguh sangat sangat sangat tidak mendidik. Karena mengajak orang beragama berdasarkan emosional, bukan berdasarkan norma yang sesungguhnya. Sehingga hal-hal seperti itulah yang membuat orang justru jauh dari nilai-nilai agama.

Hal yang tidak masuk akal itu adalah, kalaupun si ibu merahasiakan, apakah tidak ada anggota keluarga dan masyarakat lain yang hidup di sekitar mereka yang tidak mengetahui peristiwa kecelakaan seperti itu, hingga mata sang ibu harus hilang demi anaknya? Apakah seluruh orang sepakat untuk merahasiakan itu kepada si anak? Biar si anak menjadi durhaka kepada orang tuanya?

Di banyak FB saya lihat komentar penuh keprihatinan dan kasihan kepada ibu itu serta menyumpahi sang anak sampai ribuan banyaknya. Ketika saya membaca pertama kali saja tidak ada rasa simpatik sedikitpun terhadap ibu itu. Malah kasihan kepada anaknya. Sudah dizalimi oleh seorang ibu yang durhaka.

Semoga kita terbebas dari pengaruh-pengaruh kurafat yang merusak cara pikir dan kejelian kita dalam menilai yang benar dan salah.

oleh Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Menanggapi tentang kisah seorang ibu yang buta dan anak durhaka