mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 23 Januari 2004

Ketika perampok menjadi pahlawan, yang lemah menjadi penghianat



Seorang anak muda dirampok oleh gerombolan begundal. Setelah hartanya disita, tubuhnya dipukuli sampai berdarahan.

Anak muda itu berusaha memberikan perlawanan dan membebaskan diri dari begundal-begundal itu.

Karena saking kerasnya usaha membebaskan diri, sampai-sampai batang ubi tetangganya tertendang dan ada yang patah-patah. Sayuran di sekitarnya pun ikut kena injak.

Dalam kondisi begitu, tiba-tiba lewat orang bijak. Orang bijak itu dengan spontan dan semangatnya mengingatkan dan menceramahi si pemuda:



"Kalau ingin melepaskan diri dari kezaliman jangan sampai melakukan kezaliman pula. Sekecil apa pun kezaliman tetap kezaliman!"




Begitulah nasehat si orang bijak kepada si anak muda.

Tapi lucunya, orang bijak itu mendiamkan saja tindakan begundal yang durjana itu. Bahkan seolah-olah memberikan suport dan membenarkan atas tindakan bejat mereka.

Karena merasa mendapatkan dukungan, para begundal menjadi tahu kalau ada suatu tuduhan kesalahan yang bisa ditimpakan kepada si anak muda.

Orang bijak itu betul-betul bijaksana. Sudah mentalqinkan kepada para begundal apa yang bisa dijadikan dakwaan.

Dengan segera begundal menyandera si anak muda. Dia dibawa ke pengadilan. Para begundal membuat laporan kalau si anak muda sudah merusak kebun ubi dan sayur tetangganya.

Jaksa dengan sigap membuat tuntutan. Tidak perlu pemeriksaan dalam-dalam. Karena bukti sudah nyata, kebun ubi tetangga rusak. Anak muda itu divonis 17 tahun penjara.

Ternyata hakim yang mengadili juga sangat bijaksana. Apa yang jadi tuntutan jaksa segera dikabulkan. Si anak muda dijebloskan ke dalam penjara selama 17 tahun atas kejahatannya itu.

Selanjutnya, para begundal diberi titel "pahlawan", karena sudah berhasil menangkap anak muda yang merusak kebun tetangga. Dan anak muda itu diberi julukan "pengkhianat".

Hakim tidak ketinggalan, diberi gelar "Hakim adil yang terhormat".

Orang bijak tersenyum bahagia penuh kemenangan, karena merasa sudah berhasil membela kebenaran. Diapun memberi titel untuk dirinya sendiri sebagai "pengajar adab yang mulia".

Begitulah ceritanya....Dunia ini memang penuh keajaiban.

Fa'tabiru ya ulil albab...!!!


oleh Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ketika perampok menjadi pahlawan, yang lemah menjadi penghianat