mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Sabtu, 17 Januari 2004

Karena diam jauh lebih susah dari pada bicara



Ketika belajar Khitabah (retorika) dengan Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Abdur Rauf, beliau sempat menuliskan pengalamannya di kitab muqarar tentang muhadharah yang beliau dengar dari Prof. DR. Abdul Halim Mahmud.

Beliau bercerita tentang kuliah Kristenisasi di sebuah gereja di Perancis. Di saat kunjungan pertamanya ke gereja itu, beliau melihat suatu pemandangan yang mencengangkan.

Di sana beliau melihat beberapa orang mahasiswa yang mencukur seluruh rambutnya, kecuali disisakan sedikit berbentuk lingkaran di bagian atas kepala.

Setelah disapa dan diucapkan salam kepada mereka, mereka tidak menjawab dan tidak bergeming sedikitpun. Tentu saja hal itu membuat beliau menjadi keheranan dan penasaran.

Kemudian beliau bertanya kepada dekan kuliah, lalu beliau mendapatkan jawaban seperti ini:

"Mereka ini dalam masa diam yang panjang. Mereka tidak boleh bicara sedikitpun seperti biasanya, sama sekali tidak boleh. Tujuannya untuk menguji emosi dan mengetes sejauh mana tekad, keinginan, dan tingkah laku mereka.

Masa ujian itu berlansung selama 6 bulan. Akan berakhir nanti dengan meninggalkan hasil siapa mahasiswa yang bisa menjadi missionaris. Untuk menyebarkan agama Kristen ke seantero dunia.

Seharusnya yang memiliki perhatian dan kekuatan tekad seperti ini adalah para da'i umat Islam. Sebelum punya semangat bicara, harus punya kemampuan untuk diam dulu. Karena diam jauh lebih susah dari pada bicara.

oleh : Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Karena diam jauh lebih susah dari pada bicara