mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 16 Januari 2004

Kapan kita bersedia meninggalkan teman dan kesibukan kita demi mendahulukan orang tua ?



Didalam kehidupan kita, sesungguhnya ada beberapa jiwa sederhana, yang tidak tampak bekas kealiman dan abid nya di wajah mereka.

Namun mereka lebih ALLAH pedulikan doa serta permintaan mereka dibandingkan golongan yang menurut kita telah berada dalam kelompok yang mustajab doanya.

Terkisah, disetiap tahun musim Haji, Amirul Mukminin Umar bin Khattab selalu menyeru satu nama kepada kafilah Haji dari syam yang datang ke mekkah.

“Adakah diantara kalian yang bernama Fulan bin Fulan, yang memiliki tanda-tanda seperti ini?”
Para Kafilah menggeleng tanda tidak mengenalnya.

Hingga suatu hari, diantara kafilah tersebut terdapat seorang anak muda miskin yang membawa ibunya naik hanya dengan memanggul diatas punggungnya. Dari tanda-tanda tersebut jelaslah pemuda itu yang dicarinya.

Maka berseru Umar bin Khattab.
“Wahai saudaraku, doakanlah aku keselamatan. Sesungguhnya Rasulullah berpesan kepadaku,’Umar, mintalah doa kepada fulan bin fulan karena doanya mustajab serta tidak tertolak bersebab baktinya kepada orang tuanya.’



Seharusnya, kisah ini menjadi kisah inspirasi nomor satu. Pengingat nomor wahid, bahwa berbudi dan berbakti kepada orangtua adalah keutamaan diatas keutamaan. Bahkan dapat menaikkan tingkat derajat seseorang di hadapan ALLAH.




Boleh jadi, sang berbudi dan berbakti kepada orang tua ini bukanlah seorang alim, tidaklah seorang terkenal, pembicara handal, kerjanya hanyalah mengurusi ibunya sakit yang tergelak dirumah. Menyuapi orangtuanya dengan telaten sesendok demi sesendok. Lusuh tubuhnya, tida menarik rupanya.

Namun mereka lebih tinggi derajatnya di hadapan ALLAH, dibandingkan yang wangi, berwajah bersih, rapi dan menarik namun mereka bahkan tidak pernah meletakkan baktinya kepada orangtuanya walaupun setahun sekali.

Maka periksalah diri kita sendiri, kapan terakhir kita mempersamai perjalanan ibu dan ayah kita? Kapan terakhir kita kita bersedia mendengar kisah dan harapan mereka? Kapan kita bersedia meninggalkan teman dan kesibukan kita demi mendahulukan kesibukan mereka? Bila kita belum pernah atau jarang melakukannya. Bisa jadi itulah sebab doa kita tertolak kepada ALLAH.

Karena kemungkinan besar, kita masih belum masuk kepada golongan orang-orang yang dimintakan doanya oleh Amirul Mukminin.

Uwais al-Qarni

oleh : Rahmat Idris

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kapan kita bersedia meninggalkan teman dan kesibukan kita demi mendahulukan orang tua ?