mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Sabtu, 03 Januari 2004

Kalau bukan kamu yang menyayangi anakmu, kepada siapa mereka akan berharap kasih sayang?



Kisahnya bermula semenjak anak ini baru saja dilahirkan. Ibunya meninggal beberapa saat setelah ia melahirkannya.

Tentu saja ayahnya tidak mampu mengasuhnya. Untuk itu ia meminta bantuan bibinya dari pihak ibu untuk mengasuh beberapa saat. Tinggallah ia bersama keluarga bibinya, diasuh bersama anak-anaknya.

Sementara ayah bayi malang itu sibuk bekerja dari pagi sampai sore.

7 bulan setelah istrinya wafat, ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan. Dia pun ikut tinggal dengan bapak dan ibu tirinya.

Setelah berlalu 3 tahun beberapa bulan istri barunya melahirkan anak kembar, seorang laki-laki dan perempuan.

Ibu tirinya tidak terlalu peduli dengan anak yang kehilangan ibu itu. Padahal umurnya belum sampai 4 tahun. Di saat-saat ia lagi membutuhkan kasih sayang dan perhatian.

Dia menyerahkan perawatannya kepada seorang pembantu yang memang sudah sangat sibuk juga dengan urusan rumah. Mencuci, bersih-bersih rumah, menyapu, menyetrika, ditambah lagi merawat anak yang satu itu.

Suatu kali di puncak musim dingin, sang istri mengundang keluarganya untuk makan malam di rumahnya.

Pada malam itu ia sangat sibuk melayani ibu, bapak dan keluarganya, hingga ia tidak peduli dengan kondisi anak tirinya. Yang tidak mempunyai siapa-siapa selain Allah.

Pembantupun sibuk menghidangkan makanan, hingga ia lupa dengan nasip si kecil yang malang.

Setelah seluruh keluarga berkumpul, mereka mulai bertukar cerita dan beramah tamah.

Ketika waktu makan malam sudah tiba semuanya mengarah ke meja makan yang di sana sudah terhidang berbagaimacam makanan yang mengundang selera. Masing-masing tidak sabaran lagi ingin mencicipi aneka macam menu. Maklum hidangan Arab.

Sementara ibu tiri anak itu hanya memberinya semangkok nasi, lalu membentak: "Pergi sana, makan di halaman!"

Anak kecil malang itu mengambil mangkoknya dengan perasaan hancur, hati sedih. Dengan lugunya ia menyingkir dari kebahagiaan keluarga istri ayahnya. Seolah-olah kehadiran dirinya mengganggu kesenangan mereka. Mereka tidak sadar kalau anak itu sangat butuh belaian kasih sayang mereka.

Anak kecil itu duduk di udara dingin yang mencekam. Dia makan nasi yang ada di hadapannya dengan perlahan.

Karena cuaca yang begitu dingin ia menyelinap di balik pintu. Tidak ada seorang pun yang bertanya bagaimana keadaannya, atau ingin tahu ke mana ia pergi. Mereka semua lupa wasiat Rasulullah bagaimana harusnya berbuat kepada anak yatim.

Pembantupun sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Sementara anak itu tidur di tempatnya berselimutkan udara dingin.

Setelah semua selesai, keluarga istri ayahnya pamitan pulang.

Kemudian ibu tirinya itu memerintahkan pembantunya untuk membersihkan rumah.

Dia sendiri pergi ke kamarnya untuk istirahat. Tidak ada usaha sedikitpun darinya untuk mengetahui di mana dan bagaimana keadaan anak tirinya.

Setelah agak larut malam suaminya pulang dan menanyakan tentang anaknya. Dengan enteng istrinya menjawab: "Dia bersama pembantu".

Padahal ia tidak tahu apakah ia betul bersama pembantu atau tidak.

Karena capek pulang kerja, ayahnya segera membaringkan badan untuk tidur.

Di dalam tidurnya ia mimpi ketemu dengan istri pertamanya, ia berkata: "Jaga anak kita baik-baik!"

Dia terbangun dengan kaget, dan langsung bertanya kepada istrinya tentang anaknya.

Istrinya meyakinkan bahwa ia lagi bersama pembantu. Istrinya itu tidak berusaha memastikan apakah betul bersama pembantu atau tidak.

Terus, suaminya tidur lagi. Tapi tidak lama ia kembali mimpi bertemu dengan istri pertamanya. Sama, kali ini ia berkata lagi: "Jaga anak kita baik-baik!"

Dia kembali terbangun dengan kaget dan bertanya lagi kepada istrinya. Istrinya menjawab dengan emosi: "Kamu suka membesar-besarkan masalah. Itu hanya mimpi. Anakmu baik-baik saja".

Dia pun yakin saja dengan kata-kata istrinya, kemudian ia lanjutkan tidurnya.

Kali ini ia kembali ketemu istrinya dalam mimpi, tapi kata-katanya sudah berbeda: "Sudah, anakmu sudah tiada".

Dia bangun betul-betul kaget. Langsung saja ia mencari anaknya ke kamar pembantu. Ternyata ia tidak ada di sana.

Mendapati kenyataan itu ia bagaikan orang gila. Dia periksa seluruh sudut rumahnya bagai orang kesetanan, sampai ia temukan anak malang itu. Akan tetapi....

dia sudah tidak bernyawa lagi. Dia sudah pergi menyusul ibundanya untuk selama-lamanya.

Tubuhnya sudah kaku dan membiru dalam keadaan mendekap lututnya. Sementara di sampingnya ada sepiring nasi yang sebagiannya sudah dimakan.

NB:

Kisah ini betul-betul kejadian nyata, yang terjadi di daerah al Qasiim - Arab Saudi.

Sebenarnya saya tidak suka dengan cerita-cerita dramatis begini. Sampai-sampai saya harus menerjemahkannya dengan air mata menetes. Tapi melihat kenyataan dalam hidup, sering hal seperti ini terjadi.

Syekh Mushtafa as Siba'i juga pernah menuliskan kenyataan memilukan seputar nasip anak-anak malang yang pernah beliau saksikan di masyarakatnya. Yang beliau tuliskan di dalam kitab "Akhlaquna al Ijtima'i".

Pada era 80an dunia perfilman diramaikan dengan sebuah film yang sangat dramatis.
Ari Anggara....
kejadian nyata yang difilmkan, yang mengisahkan bagaimana kejamnya ibu tiri, sampai ia pun meregang nyawa akibat perlakuan kasar.

Kita tidak mengatakan semua ibu tiri kejam. Sangat banyak yang baik, dan saya sendiri menyaksikan itu.

Cuma, cerita ini mungkin bisa jadi pertimbangan bagi setiap laki-laki yang mau menikah lagi dan akan menitipkan anaknya kepada istri barunya.

Kalau bukan kamu yang menyayangi anakmu, kepada siapa mereka akan berharap kasih sayang?

oleh : Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kalau bukan kamu yang menyayangi anakmu, kepada siapa mereka akan berharap kasih sayang?