mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Senin, 12 Januari 2004

Janganlah berpura-pura mencintainya,, cintailah sebagaimana adanya..



Setelah selesai perang antara Amerika dan Vietnam, telpon berdering di sebuah rumah di California. Rumah itu milik dua orang suami-istri yang sudah tua. Keduanya mempunyai seorang anak yang bekerja sebagai tentara Amerika.

Kecemasan menyelimuti keduanya. Mereka mengkhawatirkan kondisi anaknya. Mereka selalu berdo'a tanpa putus.

Sampai pada suatu siang telpon rumahnya berdering. Suami-istri itu berpacu untuk mengangkatnya supaya bisa berbicara untuk menghilangkan kerinduan dan kecemasan.

Ayah: Hallo, siapa ya?

Di seberang sana kedengaran jawaban: "Ayah, ini aku, anakmu Clark. Bagaimana kondisimu, ayah?"

Ayah: bagaimana keaadanmu, anakku? Kapan kamu akan pulang?

Ibu: Apakah kamu baik-baik saja?

Clark: Iya, saya dalam keadaan baik-baik. Aku sudah sampai semenjak dua hari yang lalu, bu!

Ayah: Benar, kapan kamu akan kembali ke rumah? Aku dan ibumu rindu sekali ingin ketemu dengan mu.

Clark: Aku tidak bisa pulang sekarang, ayah. Ada teman yang bersama denganku, ia kehilangan dua lengan dan satu kaki sebelah kanan dalam perperangan. Dia bergerak dengan susah payah. Apakah aku boleh mengajaknya tinggal di rumah, ayah?

Ayah: Kamu membawanya ke rumah?!?!

Clark: Iya benar, aku tidak bisa meninggalkannya. Sementara ia takut kembali kepada keluarganya dalam kondisi begini. Dia tidak sanggup menghadapi mereka. Dia selalu mempertanyakan: "Apakah mereka bersedia menerimaku dalam kondisi seperti ini, ataukah aku akan jadi beban yang akan menyusahkan mereka?

Ayah: Anakku, apa urusanmu dengannya. Tinggalkan dia dengan kondisinya. Serahkan saja urusannya kepada rumah sakit, biar mereka yang mengelolanya. Kalau kamu membawanya bersamamu....itu perkara yang mustahil. Siapa yang akan melayaninya? Kamu katakan bahwa ia kehilangan kedua lengan dan kaki sebelah kanan, pasti saja ia akan menjadi beban kita. Siapa yang akan mampu hidup bersamanya?

Clark....!!! Kamu masih mendengarkan ayah? Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak menjawab?

Clark: Aku dengar semua perkataanmu, ayah. Apakah ini keputusan final dari ayah?

Ayah: Iya anakku. Hubungi segera salah seorang dari keluarganya supaya ia datang, kemudian serahkan urusannya kepada mereka.

Clark: Akan tetapi, apakah ayah yakin kalau salah seorang dari anggota keluarganya akan menerimanya dalam kondisi begini?

Ayah: Aku tidak yakin. Tidak ada seorangpun yang sanggup menanggung kesulitan itu!

Clark: Aku mesti pergi sekarang, selamat tinggal.!!!

Dua hari setelah percakapan itu angkatan laut Amerika menemukan jasad Clark dari teluk California, setelah ia berhasil melarikan diri dari rumah sakit angkatan bersenjata Amerika dan ia bunuh dengan cara meloncat dari salah satu jembatan.

Ayahnya dimintak datang untuk menerima jenazah anaknya. Betapa kagetnya kedua orang tua Clark ketika menemui jasad anaknya tanpa kedua lengan dan kaki kanan.

Dokter menceritakan bahwa ia sudah kehilangan kedua lengan dan kaki kanannya dalam perperangan.

Saat itu barulah keduanya paham!

Ternyata yang dimaksud "teman" oleh anaknya tidak lain tidak bukan dirinya sendiri, yang ingin mengetahui bagaimana prinsip kedua orang tuanya dalam menerima kecacatannya sebelum ia kembali kepadanya dan memperlihat dirinya kepada mereka.

Ayah di dalam kisah ini sama persis dengan kebanyakan kita. Boleh jadi sesuatu yang mudah bagi kita mencintai sekelompok orang yang ada di sekitar kita karena ia orang yang lucu dan menarik, umpamanya. Atau ia seorang yang ganteng. Namun kita tidak mampu mencintainya untuk selama-lamanya bila ia sudah tidak sempurna. Sama saja, apakah ia tidak sempurna dalam bentuk, tingkah laku, dan kebiasaan/akhlaq.

Kiranya kita bisa mencintai seseorang di atas kekurangan yang ia miliki, dengan pertimbangan kita juga bukanlah orang yang selamat dari kekurangan. Tidak ada satu orangpun yang sempurna, sekalipun dalam pandangan kita kebalikan dari itu.

oleh : Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Janganlah berpura-pura mencintainya,, cintailah sebagaimana adanya..