mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Senin, 19 Januari 2004

Jangan asal menuduh "aku adalah pezina"



Calon pezina!!!

Ya, itulah yang sering muncul di pikiran saya ketika melihat orang berpacaran, berdua-duaan, berkasih-kasihan dengan pasangan haramnya. ingin sekali mengeluarkan semua dalil yang ada di kitab hadist maupun di Alquran untuk menjelaskan betapa pacaran itu adalah mendekati zina. bahwa pelakunya adalah terkutuk, bahwa mereka berpikiran mesum, bahwa mereka selayak iblis bertubuh manusia, bahwa mereka bahlul, bahwa mereka najis..bahwa mereka...bla..bla..bla..dengan segala macam keburukan. namun persoalannya adalah apakah memberi tahu dengan sinis malah emosi dapat memberikan kebaikan bagi yang mendengarnya dan bagi kita?

Mari kita kembali sejenak ke zaman ketika Rasulullah masih berada diantara kaum muslimin. saat itu, seorang wanita mendekati beliau dan berkata:

'Ya Rasulullah! aku berzina! maka rajamlah aku!'

Rasulullah melihat atas dirinya, lalu memalingkan wajahnya.

Sang perempuan pun kembali berkata:

'Ya Rasulullah! Aku berzina! maka rajamlah aku!'
Rasulullah masih memalingkan wajahnya.

Sampai tiga kali Rasulullah memalingkan wajahnya dan akhirnya beliau bertanya.
'Apakah engkau melakukannya selayak benda yang tercelup kedalam sesuatu, seperti ini dan ini?'

Sang perempuan menjawab iya.

'Apakah engkau mengandung?'

'Benar Rasulullah.'

'Lahirkanlah anakmu lalu baru kembali kepadaku.'

Waktu berlalu, sang anak itu pun lahir. sang perempuan kembali kepada Rasulullah dan berkata:
'Ya Rasulullah, Rajamlah aku.'
RAsulullah menjawab:
'Kembalilah dan susui anakmu selama 2 tahun. bila selesai maka baru datang kembali.'

Perempuan itu mendengar perkataan Rasulullah dan kembali 2 tahun kemudian. barulah perempuan ini di rajam hingga mati.

Lihatlah bagaimana akhlak mulia seorang Rasulullah. selalu saja kasih sayang mendahulukan kemarahan, kehati-hatian mendahulukan hukuman. kebaikan mendahulukan keburukan.

perhatikan baik-baik wahai shalihin dan shalihat, bagaimana rasulullah tidak menerima pengakuan sang wanita hingga dia bertanya ulang, 'apakah engkau melakukannya seperti benda yang tercelup, seperti ini dan itu?'. ini menandakan Rasulullah sangat hati-hati dalam menjatuhkan khad pezina. maka berhati-hatilah dalam menjatuhkan label pezina kepada seseorang. boleh jadi mereka pacaran, boleh jadi mereka dua-duaan. namun ingat, sebelum ada pengakuan yang valid, atau mendatangkan 4 orang saksi lelaki dewasa, haram hukumnya kita berkata: mereka adalah pezina, walau mereka sangat buruk akhlak dan perbuatannya sehari-hari. pacaran memang adalah tindakan buruk, namun memberi label mereka adalah pezina tanpa ada saksi juga sama buruknya.

yang kedua, perhatikanlah bagaimana rasulullah menunda rajam dan memberikan kesempatan bagi sang perempuan menebus kesalahannya dengan bertanggung jawab secara penuh akan dosa-dosanya. beliau tidak mengizinkan sang perempuan ini di rajam sebelum dia melahirkan anaknya. seolah beliau ingin memberikan pesan

'Lahirkanlah anakmu. tebus perbuatan maksiatmu dengan merasai sakitnya melahirkan, moga ALLAH membalas kesabaranmu dalam proses persalinan dengan keampunan yang mampu merobohkan dinding zina'

Ingatlah dengan hadist Rasulullah: 'melahirkan adalah jihadnya kaum perempuan'

Maka saya pribadi tidak berani mencela pezina yang memilih melahirkan anaknya daripada yang lari dari tanggung jawab dengan cara menggugurkan kandungannya. boleh jadi, di kesabarannya melahirkan, ALLAH melimpahi rahmat ke ampunan karena 'jihadnya' itu. sama seperti saya tidak berani mencela pasangan pacaran yang mereka memilih menikah, karena boleh jadi pernikahan mereka telah menebus maksiat pacarannya.

Yang ketiga, lihatlah bagaimana rasulullah mendahulukan kasih sayang daripada penghukuman. rasulullah bersabda:

'Susuilah anakmu selama 2 tahun.'

Perhatikanlah secara baik-baik lajur perintah Rasulullah, beliau mengirimkan pesan untuk kita bahwa bila seorang pendosa besarpun seperti pezina masih memiliki celah melakukan kebaikan untuk seseorang manusia, maka memberinya tenggak waktu adalah keutamaan daripada mendahulukan hukuman. bayangkanlah bila seorang anak umur 0 bulan harus kehilangan ibunya, maka apa yang terjadi? tentu kemelaratan kepada sang anak. kesusahan bagi walinya, kemuraman bagi keluarganya. maka ketika itulah rasulullah mendahulukan kebaikan dan kasih sayang daripada penghukuman. sebab itu, bila kita melihat seorang pelaku maksiat seperti pacaran lalu kita memalingkan muka ketika berjumpa dengannya ingatlah apa yang dilakukan oleh rasulullah ini. boleh jadi sang pelaku maksiat itu adalah seseorang yang dia terikat kebaikan dengan orang disekitarnya.

Boleh jadi dia adalah perempuan yang berpacaran tapi dia adalah seorang anak yang mencari nafkah bagi keluarganya yang sebatang kara.

Boleh jadi dia adalah lelaki yang berpacaran namun dia mengajari anak-anak sekitarnya macam-macam bahasa ataupun memberi pertolongan keamanan bagi sekelilingnya.

Maka berhati-hatilah dalam memberikan penilaian.

bila pezina saja masih diberi tenggak waktu karena masih mendatangkan faedah bagi manusia, apakah pantas kita menjatuhkan hukuman moral seperti menjauhi dan malah menghibahinya seorang ahlul khalwat padahal kita belum tahu sejauh mana dia melakukan maksiat dan sejauh mana kebaikannya terikat kepada orang lain? seharusnya kita membantu mereka kembali ke jalan yang benar, bukan malah menutup pintu2 taubat dengan perkataan kita.

Yang terakhir, ingatlah ketika sang wanita itu akhirnya di rajam. dia melenguh kesakitan dan dari mulut shahabat keluarlah kata-kata yang tidak pada tempatnya. Shahabat secara manusiawi mengatakan betapa buruknya akhir hidup dari perempuan itu. namun reaksi Rasulullah malah sebaliknya. beliau berkata:
"Diamlah kalian. apakah kalian tahu, seandainya saja taubat sang perempuan ini dibagikan untuk 70 penduduk madinah pun. sesungguhnya taubatnya itu mencukupi kebutuhan mereka.'

Inilah bukti keluhuran akhlak dan tuntunan Rasulullah kepada kita. jauhilah perkataan buruk untuk mereka yang telah sungguh-sungguh bertaubat. janganlah pernah berkata: si fulan kan dulu pacaran! si fulanah kan perempuan gampangan! si fulan dan fulanah kan mana cocok nikah dengan lelaki dan perempuan baik2, mereka kan ahlul khalwat!. karena sungguh kita tidak pernah tahu, boleh jadi bila mereka bertaubat, taubat mereka setara dengan taubatnya 70 orang lelaki dan perempuan yang berada disekelilingnya. termasuk taubat saya dan anda.

Wallahu'alam.

nb : artikel ini bukan untuk melegalkan pacaran, ini adalah artikel yang memberikan sisi lain bagaimana kita melihat para pelaku pacaran sebagai objek dakwah yang harus di ajak menuju hal2 yang baik.
jadi ingatan bersama bagi kita: yang mengetahui hukum halal haram, bila di lakukan maka dosanya dua kali lipat yang tidak memahaminya.

oleh : Rahmat Idris

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Jangan asal menuduh "aku adalah pezina"