mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 02 Januari 2004

"Jangan ikut campur, itu bukan urusan kita!"



Kadang kita heran dengan perkataan sebagian orang kepada orang lain ketika menyaksikan adanya dua kelompok yang bersiteru: "Jangan ikut campur, itu bukan urusan kita!"

Sayangnya orang yang melarang itu justru menampakkan keberpihakan dan dukungannya kepada salah satu pihak.
Di mana pihak yang ia dukung itu lawan dari pihak yang didukung oleh orang yang ia larang.

Ternyata yang ia maksud dengan kata "ikut campur" itu adalah berpihak kepada lawan pihak yang ia dukung. Kalau ternyata orang lain itu seide dengan dia itu bukan ikut campur namanya, tapi netral namanya......., katanya sih.

Sebenarnya orang yang melarang dan yang dilarang sama-sama pada posisi menonton dan suporter.
Apabila ada dua kelompok pemain bola lagi bertanding, siapapun yang ikut teriak dan mendukung salah satu kelompok tidak bisa dikatakan "ikut campur".

Kecuali bila ia ikutan masuk gelanggang dan serta dengan pemain menendang bola.
Sekalipun ia mau melakukan itu, pasti panitia dan pemain sebenarnya tidak akan mengizinkan.
Andai dia memaksakan diri maka permainannya dianggap tidak sah, dan pasti ia akan menggelinding keluar lapangan ditendang oleh pihak keamanan.

Begitulah hakikatnya bila kita menyaksikan dua kelompok yang bersiteru.

Cuma dalam agama kita ini tidak ada satu halpun yang tidak dibahas. Tidak ada yang berlalu begitu saja tanpa diatur oleh al Qur'an. Sampai getaran-getaran di dalam hati juga dipermasalahkan.

Mari kita lihat dengan hati terbuka......

Kecenderungan hati kepada salah satu pihak bukan dianggap angin lalu.
Bukan seperti kita mendukung salah satu klub bola. Tidak ada alasan untuk berkata; "Alah, itukan hanya urusan politik. Tidak ada hubungan sama sekali dengan kita dan agama". Din bari' (agama berlepas diri) dari semua itu. Betulkah demikian?

Mari kita tadabburi ayat yang satu ini. Sambungan ayat yang membuat Rasulullah menjadi beruban:

ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون


"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang akibatnya nanti kamu disentuh oleh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (Hud: 113)

Silahkan baca tafsir apapun tentang ayat ini. Pantasan Rasulullah sampai beruban gara-garanya. Permasalahan bukan sesederhana yang kita bayangkan. Hanya sedikit kecenderungan hati kepada yang zalim akibatnya di"belai" oleh api neraka.

Boleh saja kita berkata: "Oh, justru yang zalim itu adalah pihak lawan yang kami suport". Tidak masalah kalau demikian.
Pandangan dan hati yang fitrah akan berkata jujur tentang itu. Entah kalau mata batin sudah kelabu dalam melihat. Yang penting siap menghadapi segala akibatnya, di dunia apalagi di akhirat.

Yang penting lagi kita ulang ingatkan bahwa permasalahannya bukanlah sesederhana menjadi suporter bola. Namun Jahannam taruhannya.

Itu baru ancaman bagi yang punya rasa simpatik kepada kezaliman. Bagaimana kira-kira azaban Allah terhadap orang yang ikut dalam melakukan kezaliman, apalagi menjadi dedengkotnya?

أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها

"Apakah mereka tidak mentadabburi al Qur'an, ataukah hati-hati mereka terkunci?" (Muhammad: 24)

Ayat al Qur'an bukanlah sekedar untuk didendang-dendangkan. Dihafal untuk mendapatkan titel sebagai "hafiz". Dipelajari untuk mencari gelar sarjana.

Didalami demi sebuah sorban di kepala. Dibaca untuk mencapai target tilawah dan wiridan. Tapi.....ada kewajiban berat setelah itu, yaitu mentadabburi untuk diamalkan.

Allahumma qad ballaghtu, Allahumma fasyhad.

oleh : Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : "Jangan ikut campur, itu bukan urusan kita!"