mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Selasa, 27 Januari 2004

hanya Allah yang berhak membagi-bagikan nikmat kepada siapa yang Dia kehendaki



sumber gambar : muslimahzone.com

Suatu kali Abu Jahal ditanya oleh rekan-rekannya sesama pemuka Quraisy Jahiliyah:



Rekan Abu Jahal: Wahai Abu Jahal, apakah benar kalau Muhammad itu seorang pembohong?

Abu Jahal: (Dengan agak emosi) Apa-apaan kalian? Tidak pernah Muhammad itu berbohong sedikitpun.

Rekan Abu Jahal: (Dengan penuh keheranan) Lalu kenapa kamu memusuhinya?

Abu Jahal: (Dengan nada prihatin) Semenjak dulu kita bersaing berebut pengaruh dengan Bani Hasyim (suku Rasulullah). Mereka memberi makan fakir miskin, kita lakukan hal yang sama. Mereka membantu orang yang susah, kita juga ikut membantu. Mereka menebar kebaikan, kita juga menebar kebaikan. Sekarang Allah menurunkan wahyu dari langit kepada mereka, apalagi bagian untuk kita Bani Makhzum (suku Abu Jahal)?




Tanpa dapat mengingkari keutamaan, kelebihan dan kebaikan budi pekerti, serta kebenaran dakwah Rasulullah, akhirnya Abu Jahar terpaksa buka kartu pribadinya. Sebenarnya tidak ada masalah dengan Rasulullah, dan dia akui hal itu. Masalahnya ada pada dirinya sendiri, yaitu kedengkian dan kebencian yang sudah sampai keubun-ubun yang membuat hidayah terhalang masuk ke dalam hatinya.

Allah menguatkan tentang apa yang berada di dalam hati Abu Jahal itu:



"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah". (Al An'am: 33)




Pada hakikatnya Abu Jahal bukan memusuhi Rasulullah, tapi dia menentang Allah. Seolah-olah ia berkata: "Ya Allah, kenapa nikmat-Mu diturunkan kepada keluarga Muhammad saja, aku lebih berhak untuk itu".



Pelajaran:

1. Jangan ada rasa iri, hasad, dengki dan dendam kepada orang lain atau kelompok lain, karena itu bisa menyumbat aliran hidayah ke hati. Hanya Allah yang berhak membagi-bagikan nikmat kepada siapa yang dia kehendaki, sesuai dengan hikmah yang Dia ketahui. Tadabburi Az Zukhruf: 32.

Andaikan Abu Jahal mau sedikit merendahkan hati, Allah akan memasukkan hidayah ke dalam hatinya. Dan Abu Jahal akan menjadi orang-orang yang tidak akan kalah kelasnya dari Umar bin Khattab, karena dia sebenarnya orang yang cerdas dan memiliki sifat-sifat utama sebagai pemimpin.

Namun karena kekerasan hatinya, ia rela untuk menjadi orang yang hina dina, yang akan menghuni neraka Jahannam untuk selama-lamanya.

2. Jangan berbuat kebaikan karena ingin berebut pengaruh di depan manusia, karena suatu saat Allah akan tampakkan apa yang tersembunyi di dalam hati itu. Begitu juga dalam dakwah dan menyebarkan agama ini.

Ya Allah, cabutlah sifat ghil (segala bentuk hasad dan benci) serta dendam dari dada kami kepada siapapun.



oleh Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : hanya Allah yang berhak membagi-bagikan nikmat kepada siapa yang Dia kehendaki