mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Selasa, 20 Januari 2004

Berhematlah dalam menuruti nafsu



Bila anda benci seseorang, hemat-hemat lah kata untuk melontarkan cacian.

Boleh jadi suatu saat dia berubah, atau bila hakikat dirinya tersingkap ternyata ia tidak seperti yang anda cacikan, apa yang akan anda lakukan waktu itu?

Apakah akan terus mencaci, atau akan minta maaf? Atau justru akan mencari-cari fitnah untuk membenarkan cacian anda terhadap dirinya?

Lalu bagaimana kalau hakikat dirinya baru anda ketahui di akhirat nanti? Apa yang akan anda lakukan saat itu?

Bila anda suka kepada seseorang, hemat-hemat lah kalimat untuk memujinya.

Boleh jadi suatu saat ia berubah, atau hakikat dirinya tersingkap, ternyata dia adalah seorang durjana yang bersembunyi di balik kebaikan. Lalu apa yang akan anda lakukan di saat itu?

Apakah anda akan menarik pujian yang sudah segunung kepadanya, atau mencari-cari pembenaran untuk tetap memujinya? Hingga sekalipun ia membawa anda ke lembah kesesatan anda akan ikut nyelonong dengannya?
Cinta dan benci hanya karena Allah.

Bila yang dibenci ternyata pada pihak yang benar, kebencian wajib diputar menjadi kecintaan.

Tapi bila yang dicintai ternyata ada pada kubu kebatilan, api cinta wajib dipadamkan.

Ingatlah firman Allah:

"Dan ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit dua jarinya menyesali perbuatannya, seraya berkata: "Wahai sekiranya dulu aku mengambil jalan bersama Rasul.

Wahai celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.

Sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan Al Qur'an ketika al Qur'an telah datang kepadaku. Dan syetan memang penyesat manusia". (Al Furqan: 27-29)

oleh : Zulfi Akmal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Berhematlah dalam menuruti nafsu