mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 16 Januari 2004

Bercanda yang berujung tangis penyesalan..



Seorang istri yang berpendidikan s2 dan terlihat lebih pintar dari suaminya berkata disuatu hari:



"Kalau kamu mau menikah lagi silahkan saja, memangnya ada yang mau denganmu?aku saja menyesal menerima lamaranmu."




suaminya yang polos dan sulit berbicara itu hanya diam namun jujur harga dirinya terluka.

mungkin saja sang istri itu berkata tanpa niat serius, namun sang suami telah bertekad untuk membuktikannya kepada istrinya yang sedang mengambil pendidikan master itu.




"Lihat saja, aku akan berusaha dan menjadi pedagang kaya raya kemudian mencari istri yang lebih cantik serta lebih taat daripada dia."




beberapa minggu yang lalu sang lelaki itu bertemu dengan saya dan saya bertanya:



"Apakah keinginanmu tahun lalu itu masih engkau pikirkan?"



Dia menjawab:



"Selama istriku tidak mencabut perkataannya, aku tetap akan membuktikannya."



"Lalu kalau dia mencabut perkataannya setelah engkau menikahi perempuan lain?"



"Maka dia sudah terlambat untuk melakukannya."



Terkadang, konflik itu muncul dari rasa penghormatan kita yang semakin rendah kepada pasangan kita.

betapa lidah sulit untuk dijaga, betapa lidah juga begitu tajam mengiris hati dan perasaan.

betapa hal besar mengancam hanya disebabkan ketakjuban kita pada diri sendiri seolah kita lebih hebat dari pasangan kita.



"Sudah beruntung aku menerimamu."



Betapa banyak perempuan yang bersenda seperti itu lalu akhirnya menangis meraung ketika keberuntungannya itu telah habis masanya.

oleh Rahmat Idris

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Bercanda yang berujung tangis penyesalan..