mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Minggu, 04 Januari 2004

Ayahku,, Sungguh aku menyesal..



Dalam diam.
Menatapmu sedekat ini.
Bahkan mampu merasakan denyutmu yg lemah..
Juga suhu tubuhmu yg seakan mendidih di udara.
Bapak..
Sungguh menyesal
Setua ini baru kurasakan nikmatnya mencintaimu dlm diam.
Sungguh menyesal
Bahwa setelah engkau dewasakan, aku baru memelukmu setelah engkau tak lagi balas memelukku.

Sungguh menyesal,
Setelah aku engkau manusiakan
Baru kuresapi indahnya memeluk kepalamu dlm pangkuanku
Sehingga kita tak berjarak sama sekali.

Tidurlah, bapak ku sayang...
Tidurlah tenang.
Aku disini.
Masih memelukmu..

sungguh seperti memasuki lembah keharuan yg pekat
Ketika menatapnya yg tengah terbaring lemah disalah satu tempat tidur dlm ruang yg bukan rumah kami ini.
Menatap kulit keriputnya..bersama stempel perjuangan yg tercetak dikening tuanya..
Menyentuh lengan kurusnya keriput yg gemetar...
Duh..tangan inilah yg telah membesarkan dan mendidik kami menjadi manusia,
Tangan inilah yang dulu telah merengkuh kami dan meletakkan dipundak maupun pangkuannya...
Tangan inilah dulu yg berpayah namun penuh cinta ketika kami meminta dibuatkan layangan, sangkar burung, mobil2n dr pohon, membuat kincir angin ketika hujan..dan jutaan sentuhan sentuhan cinta lainnya.
Kini, seiring usia yg semakin senja..
Baru kali ini kulihat wajah itu pias memucat
Nafas tersengal yg menyesakkan.
seumur mata kami mampu sempurna menatap setiap lekuk wajahnya..
Baru kali ini kami temukan rasa lelah disana...

Oh..bapak...
Istirahatlah...
Tidurlah tampa khawatir ttg masa depan kami lagi..
Istirahatlah..
Kami disini...
Menjagamu.

oleh : Isra Masjida Kinkomi

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ayahku,, Sungguh aku menyesal..