mari perkaya wawasan kita dengan berbagi..

Jumat, 09 Januari 2004

"Taubatku adalah taubat yang dusta, Aku lakukan agar dipuji orang lain"



Manshur bin 'Ammar al Wa'izh menceritakan:

Aku mempunyai seorang teman yang suka bermaksiat, kemudian ia bertaubat. Dia berubah menjadi seorang ahli ibadah yang banyak shalat, puasa, tahajjud, tilawah dan zikir.

Suatu kali aku kehilangan dirinya....

Ada yang mengatakan kepadaku kalau ia dalam keadaan sakit. Lalu aku mendatangi rumahnya. Setelah aku mengetuk pintu, keluarlah anak perempuannya. Dia bertanya: "Anda ingin ketemu siapa?"

Aku berkata: Sampaikan kepada ayahmu "Manshur ingin bertamu". Dia minta izin kepada ayahnya supaya membolehkan aku masuk. Setelah diizinkan akupun masuk. Aku mendapatinya terbaring di atas kasur di tengah rumah.

Wajahnya sudah berubah menghitam. Air matanya berlinangan. Matanya melotot. Bibirnya sudah menebal, pecah-pecah dan mengering.

Dalam keadaan ketakutan menyaksikan kondisinya, aku berkata: "Saudaraku, perbanyaklah mengucapkan "Lailaha illallah"!

Dia membuka matanya dan memandangiku dalam-dalam. Tiba-tiba ia pingsan.

Tidak lama ia sadar lagi, kemudian aku ulangi mengatakan: "Saudaraku, Perbanyaklah mengucapkan "Lailaha illallah"!

Aku mengulang-ulang mengatakan itu. Lalu ia membuka matanya dan berkata: "Saudaraku Manshur, ada penghalang antara diriku dengan kalimat itu. Aku tidak mampu mengucapkannya".

Aku tersentak: Lahaula wa la quwwata illa billahil 'aliyil 'azhim. Saudaraku, kemana shalat, puasa, tahajjud dan tilawahmu selama ini?

Dengan tesengal-sengal ia menjawab: Itu semua aku lakukan bukan karena Allah. Taubatku adalah taubat yang dusta. Aku lakukan itu semua supaya aku jadi buah bibir orang lain, itu hanya riya karena ingin dilihat manusia.

Apabila aku sudah menyendiri, jauh dari pandangan manusia, aku lakukan maksiat. Aku terus dalam kondisi seperti itu sampai aku ditimpa penyakit parah, hampir tidak ada harapan hidup lagi.

Dalam kesulitan itu aku meminta kepada anakku untuk mengambilkan mushaf al Qur'an. Setelah mushaf berada di tanganku, aku bermunajat: Ya Allah, sembuhkanlah aku dari penyakit ini dan angkatlah bala' yang menimpa diriku. Aku berjanji tidak akan kembali lagi kepada dosa untuk selama-lamanya.

Setelah itu Allah menyembuhkan ku dari penyakit itu. Ketika aku sudah sembuh aku kembali lagi kepada kebiasaanku melakukan maksiat, dan syetan melupakan ku terhadap janji yang telah aku ucapkan kepada Allah.

Aku berlanjut melakukan itu sampai beberapa lama. Sampai aku ditimpa lagi oleh penyakit yang lebih parah dari sebelumnya, hingga aku sudah putus asa untuk bisa hidup.

Saat itu aku minta kepada keluargaku untuk mengeluarkanku dan membaringkanku di tengah rumah seperti kebiasaanku. Kemudian aku minta diambilkan mushaf al Qur'an dan aku membacanya. Selanjutnya aku berdo'a seperti do'a sebelumnya.

Tidak lama Allah mengabulkan permintaanku dan melepaskanku dari kesusahan. Tapi setelah itu aku kembali kepada maksiat dan melupakan lagi janjiku kepada Allah.

Setelah berlalu beberapa lama aku ditimpa lagi penyakit yang kamu lihat sekarang. Aku kembali meminta keluargaku untuk membaringkanku di tengah rumah sebagaimana kamu saksikan sekarang.

Kembali aku minta mushaf al Qur'an untuk aku baca. Tapi tidak satu hurufpun yang bisa aku lihat. Waktu itu tahulah aku bahwa Allah sudah marah kepadaku. Aku angkat kepalaku ke langit terus aku berdo'a: Ya Allah, sehatkanlah aku dan bebaskan lah aku dari kesusahan ini wahai Yang Maha Perkasa.

Saat itu aku seolah-olah mendengar panggilan:



Engkau bertaubat dari dosa-dosamu ketika engkau sudah sakit.

Dan engkau kembali lagi melakukan dosa ketika engkau sudah sembuh.

Berapa kali engkau selamat dari kesulitan.

Dan berapa kali bala' diangkatkan darimu ketika ia menimpamu.

Apakah engkau tidak takut datangnya kematian sementara engkau dalam kesalahan yang telah membuatmu lalai.




Kemudian Manshur melanjutkan ceritanya: Demi Allah, aku keluar dari sisinya dalam keadaan air mata mengucur. Baru saja aku sampai di pintu rumah ia sudah menghembuskan nafas terakhir.

وحيل بينهم وبين ما يشتهون.

"Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan..." (Saba': 54)


Yang mereka inginkan itu ialah beriman kepada Allah atau kembali ke dunia untuk bertaubat. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur.

Taubat itu bukanlah ucapan di mulut. Tapi ia adalah penyesalan yang sungguh-sungguh dari hati dan tekad yang kuat untuk tidak kembali lagi ke masa lalu yang kelam. Kemudiaan disertai amal shaleh sebanyak-banyaknya.

Di antara syarat sahnya taubat adalah bila taubat itu dilakukan sebelum menyaksikan alam akhirat. Ketika sudah turun azab, atau kematian sudah datang, maka lenyap sudah kesempatan untuk kembali.

Allah tidak akan pernah menolak taubat hamba-Nya. Siapa pun yang mengetuk pintu keampunan akan dibukakan oleh Allah. Namun itu hanya bila disertai penyesalan yang sungguh-sungguh dengan hati yang jujur.

اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Takutlah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar/jujur" (At Taubah: 119)


(Bagian dari khutbah Jum'at di mesjid as Salam, 7 Februari 2014)

oleh : Zulfi Akmal Adz Dzahaby

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : "Taubatku adalah taubat yang dusta, Aku lakukan agar dipuji orang lain"